Kamis, 27 Mei 2010
the next Kongres HMI
kali ini Kongres HMI ke XXVII akan digelar di Depok - Jawa Barat. Kita lihat nanti seberapa banyak tikus curut yang hadir meramaikan Kongres.
Sabtu, 26 Juli 2008
Kamis, 24 Juli 2008
“Saya Adalah Prototip Paling Sempurna”
Majunya Agus Salim sebagai salah satu kandidat ketua umum PB HMI pada kongres ke 26 di Palembang, mengundang perdebatan di berbagai kalangan. Agus yang tampil sebagai sosok baru dengan wajah lama ini, dinilai tidak memiliki kapasitas untuk memimpin lembaga tersebut. Untuk menggali lebih jauh visi dan pemikiran Agus Salim, Pedas menurunkan wawancara dengan kader asal Palembang ini.Sayangnya, Agus yang tengah berada di Shanghai dalam rangka mengunjungi komunitas copet asal Palembang di sana, enggan dihubungi. Bahkan sms-pun tak berbalas. Namun untuk tidak mengecewakan pembaca, redaksi tetap menyajikan wawancara ekslusif tersebut dalam kemasan imajiner. Berikut kutipan utuhnya.
Anda serius, maju sebagai kandidat?
Pertanyaan anda yang tidak serius.
Tapi anda dinilai tidak memiliki kapasitas?
Justru karena itu saya maju. Saya belajar dari pengalaman pilpres dan pilkada yang justru memenangkan orang-orang yang tidak punya kapasitas.
Lantas apakah anda bisa memimpin?
Pertanyaan anda salah. ‘Bisa memimpin’ tidak menjadi prasyarat pemilihan di negeri ini. Yang menjadi pertanyaan budaya politik kita adalah, apakah anda punya uang dan punya massa.
Dalam pencalonan ini, apakah anda punya uang dan punya massa?
Pertanyaan anda seharusnya memilih salah satu, uang atau massa. Sebab jika saya punya uang, saya bisa membeli massa. Atau jika saya punya massa, saya bisa menarik uang.
Oke. Dalam pencalonan ini, apakah anda punya uang?
Tidak. Jika saya punya uang, saya tidak akan mencalonkan diri menjadi ketua PB HMI. Saya disini justru sedang mencari uang.
Berarti anda punya massa?
Tidak juga. Karena susah dapat massa di HMI jika tidak punya uang.
Lantas apa yang anda punya?
Saya tidak punya apa-apa.
Berarti anda tidak layak menjadi ketua PB HMI?
Layak? Berat sekali anda membebani saya dengan kata-kata layak hanya untuk bisa memimpin PB HMI. Anda pikir kandidat-kandidat lain adalah orang-orang yang layak.
Tentu mereka layak. Sebab jika tidak, mana mungkin mereka menjadi pengurus besar?
Anda berlebihan menilai pengurus besar. Buat saya, mereka itu adalah orang-orang tidak punya banyak pilihan atau kalah bersaing di bidang lain, sehingga tetap berorganisasi mahasiswa. Mereka belum mampu untuk beranjak dari sana.
Lantas apa yang membuat anda tertarik maju sebagai kandidat?
Jelas. Umur saya tua, saya tidak punya pekerjaan, saya tidak punya keahlian. Saya adalah prototip paling sempurna sebagai ketua PB HMI.
Berarti HMI tidak bermutu, dong?
Picik sekali pandangan anda. Sebagai jurnalis anda tidak pantas membuat pertanyaan itu.
Lantas bagaimana?
Dengar, HMI itu adalah sebuah entitas besar yang bahkan tidak bisa diwakili oleh segelintir orang yang menjadi pengurusnya. HMI adalah rumah yang begitu luas, dan siapapun yang masuk kedalamnya akan memperlakukan satu dengan yang lain layaknya saudara. Sebagai saudara, mereka belajar, berbuat sesuatu, mencari jodoh, dimana pergaulan mereka demikian jujur karena tak ada lagi status sosial dan perangkat artifisial lainnya. Bayangkan kekuatan mana yang bisa membangun infrastruktur semacam ini.
Dengan persaudaraan itulah HMI menjadi ajang mobilitas yang membawa mahasiswa dari Sabang berkunjung ke Merauke, dan mahasiswa Merauke singgah ke Sabang. HMI telah memperkaya kehidupan mahasiswa. Mungkin tanpa HMI mahasiswa tidak kemana-mana, yang di kota tetap di kota, yang di pedalaman tetap di pedalaman.
Memang, ada segelintir anak-anak HMI dan orang-orang disekelilingnya yang ingin memanfaatkan lembaga ini untuk memuaskan nafsu untuk berkuasa, tapi ini adalah resiko dalam kehidupan. Dan orang-orang semacam ini akan punah dengan sendirinya seiring dengan semakin beradabnya masyarakat kita. Begitu ...
Sudah?
Belum.
Ada lagi?
Jadi begini. Kita ini kan... ah sudahlah. Tidak bagus juga terlalu banyak bicara. Ya, kan?
Betul
Oke, ya kalau begitu.
Oya, untuk amplop wawancara ini, silahkan hubungi sekretaris pribadi saya.
Maaf, saya tidak terima amplop
Wah, bagus itu. Sebagai wartawan anda punya integritas. Anda pasti lulusan Bakornas Lapmi HMI.
Kok anda tahu?
Ente ini gimana, kita kan tinggal se-rumah.
He..he...he...Sudah, ya?
Terserah Ente, lah. Ente sendiri yang bikin, kok pake’ nanya saya. Mau lanjut juga, kan ente sendiri yang jawab. Aku kan cuma imajiner.
Tapi kalau boleh minta, tolonglah kalo menampilkan fotoku jangan keterlaluan. Sedikit elegan, lah.
Lho, foto di samping ini kan elegan. Mirip Bung Karno justru?
Iya sih. Tapi gambar di halaman 7 itu, masak aku disamain monyet, yang benar saja. Aku ini kan kandidat, jadi tolonglah?
Oke lah kalau begitu. Oya, apa nih yang bisa kita bantu, Pak Kandidat?
Itulah. Kalau bisa kamu sounding-sounding-lah ke alumni. Pening juga kepalaku ini. Masak ada cabang yang minta mobil. Aya-aya wae adek-adek ini, pikirnya kita banyak duit.
Mana rokokmu, asem juga mulut ini ngomong terus.
Jadi berapa nih, cabang yang sudah fiks?
Akh, susah kalo ngomong itu. Mereka ini enggak ada yang bisa dipegang. Kemaren ngomong begitu, sekarang bisa ngomong begini. Mana koreknya?
Lho, katanya MC sudah bagi-bagi “amplop”?
Tetep. Mereka ini sudah seperti asbak, semua kandidat ditampung. Enggak ada yang idiologis. Susah kalo orientasinya uang. Makanya sekarang ini, cabang yang pasti-pasti aja yang kita rawat. Itu juga masih ada yang kena olah.
Iya, ya. Sekarang ini justru cabang yang mainin kandidat. Jadi gimana kita bisa ngomong idealisme kalo begini. Rusaknya sudah merata. Padahal...
Udahlah! capek ngomong serius. Mending kita ngomong yang bening-bening. Ya, dak?
Anin itu manis juga ya, kalau dilihat dari sini.
Anen, pake “e”. Dia bukan manis, tapi sendu.
Ya...ya...ya...Sendu, seneng duit. he..he..he...
Bisa enggak, kamu sonding-sonding aku ke dia.
Berat, Bos. Anak Paramadina. Dia bawaannya Mercy. Enggak kemakan sama Kak Agus. Kalo mau, Ayu aja. dia juga manis.
Ayu? yang mana fotonya?
Di halaman satu. Enggak keliatan dari sini.
Bolehlah. Kau kirimlah salam buat dia. Bilang: dari Kak Agus, kandidat Ketua Umum PB HMI. Pemuda Palembang tulen. Ya, dak? Atau jangan-jangan Ayu itu dari Palembang, jugo?
Bukan. Dia orang Padang.
Bolehlah. Nanti kalau sukses, kau jadi Ketua PAO dan Infokom sekaligus. Mantap, kan?
Siiiiiplah!
(Anom/Misbah)
Evolusi Belum Selesai
PALEMBANG, PEDAS - Agus Salim Tampil sebagai kandidat Ketua Umum PB HMI 2008-2010. Sosok kharismatik dari Palembang ini mengusung platform Evolusi Belum Selesai. “Melalui platform ini saya akan memperjuangkan manusia Indonesia menuju kesempurnaan kemanusiaannya. Yaitu manusia yang berbudaya, punya prinsip, dan menjunjung tinggi akal sehat,” ujar calon independen ini.Kongres ke 26 HMI di Palembang di perkirakan banyak pengamat tidak akan berjalan seru. Bahkan pengamat politik dari Lingkaran Indonesia Madani, Alex Sudarmadji, mengatakan bahwa sejak satu dasawarsa terakhir kongres-kongres HMI tidak banyak menghasilkan kado yang berarti bagi perubahan bangsa ini, kecuali rutinitas pergan-tian kepengurusan dan hal-hal teknis lainnya. Hal ini menurut Alex disebabkan oleh menurunnya kualitas kebu-dayaan di ling-kungan HMI, khususnya bagi mereka yang terlibat dikepeng-urusan.
“Sebagai anak muda, saya melihat kader HMI tak lagi inspiratif. Mereka telah kehilangan perangkat-perangkat jiwa muda, seperti hidup yang bebas, mandiri, dan selalu haus oleh hal-hal baru,” ujar Alex.
Alex melanjutkan bahkan kader HMI saat ini lebih banyak terpukau oleh hal-hal yang ecek-ecek, seperti politik rebutan posisi atau obsesi picisan untuk dekat dengan ke-kuasaan. Sehingga wajar jika gerakan perubahan yang pernah dilaku-kan pendahulu HMI seperti Nurcholish Madjid, nyaris tak terulang lagi di masa ini.
Karena itu tampilnya Agus Salim sebagai kandidat ketua umum HMI, diperkirakan akan membuat seru kongres kali ini yang sebelum-nya diperkira-kan tidak akan berjalan seru. Agus Salim yang sebe-lumnya tidak diperhi-tungkan, bahkan oleh orang-orang terdekatnya sekalipun, kini justru tampil sebagai satu-satunya kan-didat terkuat.
“Jangankan anda, saya pun kaget dengan diri saya sendiri,” ujar Agus rendah hati saat diwawan-carai Pedas.
Namun Agus menimpali bahwa dia hanya mem-butuhkan sepersekian detik saja untuk sadar dari kekage-tan itu, lalu menyadari jika dirinya memiliki potensi yang besar sebagai ketua umum PB HMI.
“Saya ingin mengem-balikan watak asli HMI, yaitu sebagai media pembelajar dan silaturahmi. HMI selama ini dibajak oleh orang-orang yang menjadi sampah feodalisme yang haus kekua-saan,” ujar Agus yang lama melang-melinting di PB HMI sebagai pengurus freelance ini.
Agus meyakini jika dirinya akan memenangkan kompetisi ini hanya dalam satu putaran pemilihan. Ia mengakui sudah menandatangani kontrak politik dengan lebih dari separuh pemilih, meskipun ia enggan menyebut isi kontrak tersebut.
“Yang pasti, jika saya menjadi ketua PB HMI, saya disumpah untuk tidak menja-di pengemis dan babu para politisi atau pemilik uang,” tandas Agus.
Untuk memenangkan pencalonannya itu, Agus telah menjual kebon warisan keluarga untuk kebutuhan kampanye.
“Tapi saya anti politik uang,” terang pemuda asal Ogan Komering Ulu ini.
(MISBAH/ANOM)
Malu Aku di Pengurus Besar
Jika kongres pada akhirnya hanya untuk menyusun daftar nama anak muda disorientasi di sarang pengurus besar, alangkah sia-sia ribuan orang yang datang ke acara ini.MARI kita buka kartu dan tak perlu tedeng aling-aling. Ini zaman banal dalam tempurung kepala yang bebal. Kritik harus disampaikan dalam bentuk yang paling verbal, bila perlu ditambah sedikit kata-kata kasar, agar kita sadar bahwa ada sesuatu yang sedang membusuk di dada dan kepala kita.
Mari kita buka kartu dan tak perlu malu-malu, karena kita- ribuan orang yang datang ke acara kongres ini-, sebenarnya tak tahu apa yang sedang kita cari. Kita datang berjibaku untuk perang melawan apa, dan kalah-menang atas siapa? Kabarnya kita datang untuk membahas hal-hal pokok keorganisasian, seperti nilai dasar, prosedur kelembagaan, atau rekomendasi organisasi atas berbagai persoalan di republik ini.
Tapi nyatanya di antara kita tak ada riuh rendah tentang itu. Di kongres ini kepala kita tidak untuk jungkir-balik demi hal-hal yang “abstrak” seperti bangsa dan negara.
Mari kita buka kartu, kita datang ke acara ini hanya untuk mendapati diri sendiri di antara ribuan orang yang berdesak-desakan ingin masuk ke sebuah sarang yang bernama pengurus besar.
Kabarnya pengurus besar adalah jenjang prestisius, di mana yang bisa masuk kedalamnya akan menjadi pendekar politik tingkat tinggi. Begitu tinggi tingkat kependekaran itu, hingga bisa keluar masuk rumah presiden dan menteri. Bahkan kelak, pengurus besar adalah calon-calon penghuni pentas politik nasional. Alangkah malang mereka yang termakan mitos dan bualan semacam ini.
MARI kita buka kartu dan tak perlu ragu, dari periode ke periode paling mutakhir, tak ada lagi yang bisa dibanggakan dari pengurus besar yang dulu pernah punya nama besar itu.
Sebagai organisasi tingkat nasional, pengurus besar tak lagi mengandung tema-tema yang menarik untuk diperbincangkan. Di sana tak ada dinamika, gelora, suspens, harap-harap cemas, karena orang-orang didalamnya bingung dengan diri mereka sendiri. Ingin menyebutnya organisasi mahasiswa, tapi bergaya politisi. Ingin menyebutnya praktisi politik, nyatanya cuma “pesuruh” anggota dewan.
Akibatnya, kantor di Jl Diponegoro 16 A kini tak ubahnya rumah penampungan pemuda disorientasi yang hobinya keluar masuk gedung pemerintah tanpa maksud dan tujuan.
Begitu sibuk mereka dengan “kegiatan” itu, hingga kantor mereka relakan jadi sepi melompong, kotor, dan menjadi sarang laba-laba. Di sana hanya ada koran berserak, komputer hilang, dan abu rokok.
MARI kita buka kartu dan tak perlu ragu, pengurus besar hampir tak pernah melakukan apa-apa dari periode yang satu ke periode berikutnya. Mereka tidak masuk koran karena tak ada yang layak untuk diberitakan. Mereka tak mendapat dukungan, karena tak ada perlawanan. Mereka tak mengalami kegagalan karena tak ada yang diperjuangkan. Mereka absen dari koalisi lintas organisasi karena tak punya komitmen dan kepercayaan.
Kalaupun melakukan sesuatu, pekerjaan mereka tak lebih sebagai event organizer diskusi dan hal-hal lain yang selesai begitu saja ketika acara bubar. Satu-satunya kecanggihan mereka adalah hasil kegiatan yang tak bisa dilaporkan, dan keuangan yang tak bisa dihitung-bukukan.
Selebihnya mereka sibuk dengan diri sendiri. Yang menjadi ketua tak tahu apa yang dikerjakan bawahannya, yang menjadi bawahan tak tahu dimana ketuanya berada. Pengurus besar menjadi lembaga petak-umpet tingkat nasional.
Karena kesibukan petak-umpet yang mereka sebut mobilitas itu, mereka gagal bergaul dengan pemuda-pemuda lain yang sibuk melakukan pemberdayaan. Mereka nervous di tengah generasi yang sibuk berkarya dan mencipta. Mereka tersisih diantara demonstran dan gerakan perlawanan.
Pengurus besar canggung diantara anak muda yang sibuk berdiskusi tentang teknologi informasi, anti diskriminasi, film independen, korporasi multinasional.
Mereka kehilangan panggung karena makalah yang mereka rupanya berjudul: Revitalisasi Gerakan Pemuda antara Idealita dan Konteks Hari Ini, Optimalisasi Pemuda dalam Tataran Ide dan Tataran Praksis 2010-2020, Membaca Ulang Kejuangan Pemuda dalam meningkatkan Globalisasi.
KARENA tersisih dari pergaulan, mereka akhirnya pulang ke kandang sendiri. Di sana tak ada musuh, akhirnya teman menjadi lawan. Mereka “berkelahi” berebut jabatan. Mereka menerapkan politik tingkat tinggi untuk menjatuhkan teman seiring. Segala macam strategi mereka kerahkan untuk konflik, perpecahan, sikut-sikutan, jenggut-jenggutan, gunting dalam tikungan, salip dalam lipatan. Dan itu semua mereka sebut sebagai political exercises atau pembelajaran politik. Hallo, Kader. Sudah bangun?
Khairul Anom khairulanom@yahoo.com
Oh, Kader. Oh, Kéder
Suatu hari, seorang mantan PB HMI datang menemui salah satu alumni pejabat yang punya banyak perusahaan.“Bang, saya sudah selesai di PB HMI. Ada petunjuk, Bang? Saya butuh pekerjaan. Tak perlu posisi tinggi, yang penting ada penghasilan rutin,” ujarnya.
“Oke, bagaimana jika kamu jadi caleg no 1 di partai Abang? Dijamin pasti jadi,” jawab sang Alumni.
“Itu terlalu tinggi buat saya, Bang,” timpalnya.
“Kalau begitu, jadi komisaris BUMN, bagaimana? Gajinya gede!”
“Itu juga masih terlalu tinggi.”
“Hmmm, bagaimana kalau staf ahli wakil presiden. Tidak terlalu tinggi, tapi gajinya lumayan.”
“Itu juga masih terlalu tinggi.”
“Terus apa maunya kamu?” kejar si Alumni setengah kesal.
“Begini saja, Bang. Bagaimana kalau saya bekerja di perusahaan Abang, gaji dua juta bolehlah.”
“Wah!, Jangan! Bisa rusak perusahaan saya. Perusahaan saya butuh orang yang profesional dan punya integritas!” jawab si Abang dengan cepat dan nada tinggi.
“Sudahlah! Kamu jadi staf anggota DPR saja. Titik!” lanjutnya.
***
Kisah tadi diceritakan seorang teman yang beberapa waktu bertemu. Kami sama-sama pernah aktif di PB HMI, saat ini dia sedang UI alias udar-ider (bahasa sunda: luntang-lantung). Kerjanya cuma beraktifitas di Senayan daripada nganggur. Katanya sih jadi staf ahli anggota dewan.
Setelah dia pulang, saya merenungi cerita itu. Sepanjang yang saya tahu, dia merupakan aktivis yang disegani di kalangan HMI. Banyak kader-kader HMI yang berkeinginan seperti dia, karena dia adalah representasi figur HMI saat ini.
Cuap-cuap politik atau hal lain, dia jagonya.
Bikin formatur (forum mahasiswa untuk dirental)? sudah biasa.
Perhatian sama perkaderan? so pastilah.
Kader penurut? sudah barang tentu, buktinya ia biasa terima pesanan.
Jaringan? Jangan ditanya, tiap hari dia bisa ditemui di Senayan, walaupun ruang kerjanya hanya di lift.
Lalu apa masalahnya? Sampai-sampai punya keinginan jadi pegawai biasa saja tidak bisa.
***
Kalau diingat-ingat, semua kader berpikir perkaderan, buktinya training-training jalan terus. Bahkan peserta yang tidak lulus minta diluluskan. Demi perkaderan, bahkan ada alumni yang menelepon, protes dan marah-marah akibat kadernya tidak diluluskan, juga dengan alasan demi perkaderan.
Jadi mungkin hanya para instruktur dan master of training yang nggak pernah mikir demi perkaderan, karena keukeuh untuk tidak meluluskan peserta yang tidak memenuhi kriteria. Walaupun sudah mintai sampai mengancam dengan alasan demi perkaderan.
Bicara pengelolaan organisasi, HMI tidak akan ketinggalan jaman lah, kan organisasi modern. Ketika orang-orang baru melek teknologi, HMI? Wah..jauh dong. Pokoknya membicarakan HMI bakalan nggak ada matinya deh”.
Tapi, kalo bicara peran dan kualitas HMI (yang direpresentasikan keseharian kadernya) buat umat dan bangsa hari ini, baru “Bicara apaan sih...?”.
ENCEP HANIF AHMAD h@nif.web.id
Cak Nur & Anak Muda
Kacamata berwarna merah cerah, pilihan model baju casual, membuatnya tampil funky. Namanya Lowreyta. Mahasiswi Jurusan hubungan Internasional. Prestasi akademiknya bagus. Ia jadi duta kampusnya untuk anugerah beasiswa Djarum. Sesekali ia pergi menikmati klabing di tempat-tempat party dengan gengnya. Sering juga ia dipanggil miss Condee, Mungkin karena wajah Ambonnya mirip dengan menlu AS Condoleezza Rice.Chattra Mahotama adalah sosok lainnya. Sedikit chaos dalam berbusana. Ke kampus, ia sering gonta-ganti kendaraan. VW kodok tua atau sebuah motor antik bergiliran ditungganginya. Ia vokalis bandnya yang sebentar lagi merilis album. Tak ada yang menyangsikan penampilan panggungnya yang ciamik. Hobby fotografi dan menggambar membuat Chattra memilih jurusan desain komunikasi visual.
Nama selanjutnya adalah Priyo Utomo. Sebagian anak muda mungkin masih sulit mengidentifikasikan diri jika tak disebut sekedar mengikuti tren gaya hidup popular. Tapi, Priyo adalah anomali. Ia telah mengidentifikasikan dirinya sebagai seorang Punk Philosopher. Cara berdandannya nyentrik. Ia laiknya Bob Dylan. Bisa jadi karena koleksi buku-buku dan filmnya yang melimpah plus pengalaman sempat dua tahun kuliah di New Zealand, analisisnya tentang musik, film dan budaya pop sering jadi rujukan lagi terpercaya. Ia munyukai berlatih teater. Priyo ingin berbisnis setelah lulus. Ia memilih jurusan falsafah dan agama, mungkin karena ia pernah naik haji.
Lowreyta, Chattra dan Priyo adalah mahasiswa di universitas Paramadina. Hobby, minat, dan latar belakang mereka berbeda ibarat pelangi, berwarna warni dan kaya, begitu plural. Persepsi mereka juga berbeda terhadap Nurcholish Madjid atau Cak Nur, pendiri Paramadina, tempat mereka belajar dan menghabiskan waktu luang. Lowreyta misalnya, mengaku hanya tau bahwa Cak Nur itu adalah orang baik. Ia memang belum banyak membaca karya-karya Cak Nur dan pemikirannya.
Generasi Post-Religion
Ada di situasi dan era era manakah manusia-manusia baru yang sedang disemai dalam sistem pendidikan Paramadina seperti Lowreyta, Chattra, Priyo?
Komarudin Hidayat, dalam pidato kebudayaannya pada Nurcholish Madjid Memorial Lecture (September 2007) menyebutkan istilah era post-religion. Era ini menurutnya adalah sebuah era ketika norma, kesadaran dan lembaga keagamaan tidak lagi menjadi pusat gravitasi. Agama hanya menjadi sebuah subkultur, kadang maju dan terdesak ke pinggir, timbul tenggelam dalam dalam budaya yang pluralistik dan virtualistik. Era post-religion akan menggusur dominasi dan hegemoni alam batin dan kondisi sosial dari sifatnya dulu yang serba religius. Kini bermunculan aktor-aktor dan pusat kekuatan baru yang yang sangat digjaya mempengaruhi kesadaran batin dan perilaku sosial kita. Aktor-aktor itu adalah negara, modal yang bergerak lintas bangsa dan agama, serta teknologi informatika ultra modern yang melahirkan virtual society.
Jika menyebut aktor dalam era ini yang mempunyai kekuatan digjaya karena penguasaannya atas negara superpower bermodal besar-meminjam istilah Yasraf Amir Piliang (kompas,2003), maka ancaman akan datang dari para pemimpin Schizoprenik yang suka mengobarkan Schizo-War model George W Bush. Manusia-manusia baru yang disemai dalam sistem pendidikan Paramadina dan menjadi generasi post-religion tengah menghadapi tantangan dan dipaksa melawan fantasi liar pemimpin Schizoprenik yang berusaha mengacaubalaukan tanda dan makna. Penanda dan petanda ini oleh pemimpin schizoprenik diaduk-aduk dan diputar balik dalam bahasa komunikasi perang. Kata “kemanusiaan” digunakan untuk menjelaskan realitas “pembantaian”, dan kata “pencerahan” digunakan untuk menjelaskan sebuah realitas “penjajahan”.
Namun Komarudin juga menyampaikan optimismenya untuk menyongsong era post-religion ini dengan penuh keyakinan. Evolusi dan metamorfosis peradaban menurutnya bergerak maju dan menyesuaikan diri. Krisis ibarat musim gugur yang akan diganti musim semi dengan tunas dan daun baru yang segar. Identifikasi benih dan dorongan bagi percepatan gerakan akan melahirkan revolusi. Masih ada kesempatan bagi generasi post-religion untuk menggelorakan kesadaran dan gerakan global bagi perdamaian, pluralisme, kemanusiaan yang beradab, dan solidaritas, serta penolakan atas segala bentuk kekerasan, perang, dan ketidakadilan.
Cak Nur mewariskan dan melembagakan pikiran-pikirannya melalui Paramadina. Dan Paramadina telah menjadi bidan yang baik bagi kelahiran generasi post-religion. Kemerdekaan dan kebebasan untuk berekspresi melalui Paramadina dihargai. Sebagai seorang penganjur sekulerisasi objektif, pandangan keagamaan serta cara melihat diri dan lingkungan, di Paramadina berangsur-angsur lahir dan meluas melalui suatu proses kesadaran. Paramadina telah berhasil mendesain terjadinya melting pot, bertemunya pikiran-pikiran kreatif serta ragam aktifitas yang menjadi basis lahirnya sebuah peradaban baru yang lebih humanis dan tercerahkan.
Ruang Baru Bagi Gagasan Cak Nur
Keindonesiaan, Keislaman dan Kemodernan, adalah tiga isu yang menjadi konsen Almarhum Cak Nur. Dalam konteks ini pikiran-pikiran Cak Nur masih menginspirasi. Gagasannya boleh dikatakan melambung ke depan, melampaui zamannya. Sebagai seorang yang biasa menelurkan visi-visi besar, ruh, spirit, dan pikirannya akan terus membayangi. Sebagai seorang scholar muslim, ia telah menggali dan menunjukkan Islam yang universal. Cak Nur menunjukan bahwa penemuan-penemuan manusia modern, sebenarnya tidak asing di dalam khazanah Islam dan memiliki akarnya dalam tradisi Islam.
Hal lain yang menarik dan bisa dijadikan alasan mengapa Cak Nur dan pikirannya masih relevan untuk diikuti selain sifat gagasannya yang visioner adalah integritas pribadi dan kesalehan. Saat teknologi informasi semakin memberikan pilihan yang terbuka terhadap ragam pengetahuan, gagasan, pemahaman, pemikiran, dan ideologi untuk diikuti, otoritas menjadi penting. Integritas pribadi dan ketajaman visi akhirnya menjadi basis bagi trust dan magnet bagi pikiran-pikirannya untuk dibaca dan diikuti. Cak Nur dan Paramadina adalah ensiklopedi, sebuah rujukan utama untuk mencari representasi kelas sosial muslim Indonesia modern yang beradab.
Teman-teman dan sejawat Cak Nur sebagai kelompok yang terlibat langsung pengimplementasian gagasan-gagasan Cak Nur, adalah generasi pertama yang cukup apresiatif serta berhasil menjadikan Cak Nur manusia ensklopedis dan melembagakan Paramadina menjadi sebuah institusi pendidikan yang representatif. Sebaliknya, generasi post-religion adalah generasi pasca Cak Nur yang hanya menikmati materialisasi gagasan-gagasannya. Lalu bagaimana menjadikan potensi yang dimiliki generasi ini sebagai kekuatan untuk menjaga dan mewariskan pikiran-pikirannya? Jawabannya adalah dengan mengenali karakteristik generasi post-religion yang mengakrabi teknologi informasi ultra modern, cara belajar yang lebih visualistik, dan model hubungan pertemanan yang bersifat jejaring, maka gagasan-gagasan Cak Nur harus ditempatkan dan diartikulasikan dalam bahasa-bahasa serta ruang imajinasi keseharian mereka. [ ]
Misbahudin
Agenda Menghadang Korporatokrasi
Korporatokrasi tengah menyandera Indonesia. Jalannya justru dimuluskan oleh para pemimpinnya yang bermental inlander.Menjelang peringatan 10 tahun reformasi ini, ada sebuah kado yang datang dari Amien Rais. Sang masinis reformasi ini meluncurkan sebuah buku yang berjudul Agenda Mendesak Bangsa; Menyelamatkan Indonesia!
Setelah sekilan lama absen menulis buku, Amien Rais kembali hadir dengan bacaan yang bukan alakadarnya. Sebab setelah membaca buku yang mengulas globalisasi ini, membuat pembacanya seperti terjaga dari tidur di siang bolong; betapa menakutkan kapitalisme global dan betapa pengecut pemimpin bangsa ini.
Terlebih, pengalaman Amien Rais dalam mengungkap sesuatu memang teruji punya taji. Tahun 1997 ia menggugat kejahatan Freeport, hingga penambang emas terbesar di dunia itu menjadi penyumbang pajak urutan pertama, setelah sebelumnya berada diurutan belasan. Tak jauh berselang ia mempelopori gerakan reformasi, yang berujung jatuhnya Soeharto. Maka buku ini seakan menjadi kulminasi kegeramannya kepada para elit penguasa negeri ini, khususnya bagi mereka yang menundukkan diri di bawah korporasi multinasional. Tak heran, jika buku ini tak cuma berjudul provokatif, tetapi juga bertabur kalimat yang meletup-letup, bahkan cenderung vulgar.
Terdiri dari tujuh bab, buku setebal tiga ratusan halaman ini secara runut mengupas fenomena globalisasi, mulai dari teori dan kritik hingga situasi Indonesia kiwari.
Pada bab Globalisasi Makin Layu, Amien mencoba membuka pemaha-man pembaca mengenai globalisasi. Ia memaparkan landasan doktrin dan institusi yang menjadi pilar globalisasi, termasuk bagaimana globalisasi menjadi alat imperialisme bagi negara-negara maju.
Melalui institusi penopang globalisasi yaitu World Bank, IMF, dan WTO, negara kaya memainkan peranannya dalam penetrasi libera-lisasi pasar bagi negara miskin dan berkembang. Dengan agenda perbaikan ekonomi bagi negara-negara yang tengah dilanda krisis, lembaga-lembaga ini banyak berperan dalam mengatur ekonomi dunia, menuju apa yang disebut Konsensus Washington. Sebuah konsensus yang berisi perangkat-perangkat perdagangan bebas, seperti deregulasi pasar, privatisasi, nilai tukar mengam-bang dan sebagainya. Menurut para sponsornya, globalisasi merupakan keniscayaan yang tak terhindarkan, bahkan menjadi jalan keluar bagi tata dunia baru yang makmur dan indah.
Namun tak butuh waktu lama untuk membuktikan watak asli globalisasi, yang pada dasarnya adalah pengejawantahan imperia-lisme ekonomi. karena nyatanya yang kuatlah yang menjadi penindas bagi yang lemah. Negara kaya tak hanya yang bebas mengeksploitasi negara miskin dan berkembang melalui penyusutan peran negara, namun banyak aturan yang ternyata tidak fair dan hanya menguntungkan negara kaya dan korporasi.
Uniknya, hujatan atas globalisasi kini justru berasal dari orang-orang yang mulanya menjadi kompra-dornya, sebagaimana diulas bab ketiga buku ini yang berjudul Kritik Dari Dalam. Salah satu “orang dalam” yang berbalik arah itu adalah bekas wakil presiden Bank Dunia yang mendapat Nobel ekonomi tahun 2001, Joseph Stiglitz. Stiglitz menunjukkan bahwa pasar bebas tak pernah menghasilkan efisiensi karena adanya informasi yang asimetris dari para pelaku pasar. Mereka yang menguasai informasi lah yang akan mengambil keuntungan dari kerugian mereka yang miskin informasi. Sementara “tangan ajaib” yang akan mengatur pasar, menurutnya hanyalah kebohongan belaka. Karena itu, saat berkunjung ke Indonesia pada 2007, Stiglitz mengingatkan agar negara ini keluar dari pemahaman yang keliru tentang globalisasi. Bahkan lebih jauh, ia mendorong Indonesia untuk melakukan nasionalisasi, termasuk kontrak ulang atas sektor pertam-bangan sebagaimana yang dilakukan oleh negara-negara Amerika Latin.
Dalam Pax‘Americana di bab empat, buku ini mengulas bagaimana ambisi Amerika Serikat untuk menjadi penguasa dunia. Setelah meme-nangkan perang dunia II dan keruntuhan Uni Soviet, arah kebijakan negara itu adalah menjadi kekuatan tanpa tanding. Meskipun untuk ambisinya, Amerika membutuhkan korban yang tak sedik atas invasinya ke Vietnam, Irak, Afghanistan. Bahkan apa yang dilakukan Amerika dalam pembunuhan acak warga sipil di Iraq, Afghanistan, serta penjara penyiksaan di Abu Ghirab, Guantanamo, dan lainnya, jauh lebih biadab daripada yang dilakukan tentara Nazi Jerman.
Tentu untuk ambisinya itu, Amerika tak mungkin berdiri sendiri. Negara itu telah membonceng globalisasi melalui korporatokrasi, yaitu sebuah sistem besar yang melibatkan korporasi multinasional, politik, militer, perbankan, lembaga keuangan multinasional, media massa, termasuk para intelektual pendukung globalisasi. Korpora-tokrasi inilah yang menakutkan, karena ia menjadi pusaran besar yang akan menyedot pusaran-pusaran kecil di sekelilingnya.
Korporatokrasi ini pula yang saat ini tengah menyandera Indonesia, yang jalannya justru dimuluskan oleh para pemimpinnya yang bermental inlander. Tahun 1967 Freeport Mc Moran mulai beroperasi untuk merampok kekayaan alam di Papua, yang kontrak karyanya terus perbaharui hingga 2041. Tambang ini tak hanya mengakibatkan kejahatan lingkungan, tetapi juga kejahatan kemanusian dengan banyaknya pelanggaran HAM di Papua. Bahkan sebuah yayasan pensiun di Norwegia terpaksa mencabut sahamnya di perusahaan ini karena melihat besarnya kerusakan ekosistem di zona pertambangan tersebut. Namun hingga kini Freeport bagaikan negara dalam negara yang tak tersentuh, karena ia terus mengucurkan jutaan dollar kepada para petinggi politik dan militer. Perampokan SDA ini akan terus berlanjut dengan diserahkannya Blok Cepu kepada Exxon Mobil yang kontraknya hingga 2036.
Saat bangsa ini terus menyerahkan kekayaannya kepada pihak asing, pereko-nomian justru semakin terlilit oleh hutang. Jauh sebelum Konsensus Washington mengatur pereko-nomian global, pereko-nomian Indonesia sudah berada dalam arahan dan supervisi asing melalui IGGI. Soeharto melalui para ekonom-nya yang dikenal dengan Mafia Berkeley, sudah terjangkit virus liberalisasi pasar, yang anehnya terus diwariskan oleh pemerintahan sekarang. Pelan namun pasti penguasaan sumber daya alam mulai jatuh keharibaan asing. Begitu pula dengan aset-aset penting seperti perbankan dan telekomunikasi, sudah banyak yang diprivatisasi. Bahkan untuk tahun 2008 ini, komite privatisasi perusahaan BUMN sudah membuat daftar 44‘BUMN yang siap untuk dijual. Tak heran jika dalam buku ini Amien Rais mengatakan bahwa penguasa dan tokoh-tokoh era pemerintahan SBY saat ini, dalam kebijakan pertambangan, pertanian, pendidikan, kesehatan, perbankan, telah merugikan pemerintah ribuan triliun rupiah. Sehingga, bangsa ini tak membutuhkan waktu yang lama untuk menyaksikan kehancurannya sendiri, akibat para pemimpinnya dapat dibeli dan tunduk kepada raksasa korporatokrasi.
Karena itu sangat tepat jika judul buku ini menegaskan agenda yang mendesak untuk menyelamatkan Indonesia. hal yang paling utama dalam agenda itu menurut Amien Rais adalah tampilnya pemimpin alternatif bagi bangsa ini. Pemimpin alternatif itu diupayakan adalah anak-anak muda yang memiliki mentalitas bebas, merdeka, dan mandiri. Kepemimpinan itu harus mampu mengkampanyekan pentingnya menancapkan kembali kemandirian, sehingga Indonesia menjadi bangsa yang berdaulat penuh. Penghujung buku ini, Amien penutup dengan kutipan ungkapan Bung Karno, for a fighting nation, there is no journey’s end.
Khairul Anom
Manifesto Para Romli
Para Rombongan Liar se Kita tegakkan amanat founding father organisasi yang mencita-citakan mahasiswa Islam sebagai insan akademis, pengabdi, pencipta yang bernafaskan Islam.
Kita insan akademis, karena itu kita terus mereguk ilmu pengetahuan yang diwariskan peradaban manusia segala zaman segala bangsa
Kita insan pengabdi, karena itu kita mempersembahkan hidup untuk kepentingan orang banyak tanpa diskriminasi dan membeda-bedakan.
Kita pencipta, karena itu kita terus berkarya demi mewarnai peradaban manusia, sekecil dan sesederhana apapun karya itu.
Para Rombongan Liar se
Kita bangun HMI yang mandiri, merdeka, dan berharga diri.
kita hidupkan organisasi dan takkan menumpang hidup padanya.
Kita takkan memperjualbelikan organisasi. Kita memilih pemimpin karena kita cinta dan percaya. Kita takkan merendahkan diri sendiri untuk politik picisan berharga murah.
Jiwa kita mahal!
Pikiran kita mahal!
Yang berkuasa atas jiwa dan pikiran kita adalah Tuhan dan kita sendiri. Karena itu pergilan ke laut anak muda yang suka merendahkan diri. Masuklah ke dalam sumur anak muda yang mudah terbeli jiwa dan pikirannya.
Tetaplah liar, agar kepala kita tidak buntu
Tetaplah rendah hati, agar jiwa kita semakin kaya
Tetaplah kamu, tetaplah aku. Merdeka!
Skizofrenik; Politikus yang Sakit Kepala
Politikus muka lama yang terus bertahan di panggung politik berebut kekuasaan dan selebritis bergaya hidup mewah penuh gosip tapi minim prestasi adalah wajah Indonesia paling dominan dan paling sering tampil saat ini. Wajah lain dari Mirip
Sosok skizofrenik lainnya adalah tokoh kelompok teroris yang mengklaim melakukan pembunuhan itu atas perintah agama. Osama (Islam), serta Baruch Goldstein (Yahudi) adalah contoh pas dari sosok teroris skizofrenik itu. Empati bisa saja diberikan kepada mereka akibat adanya ketidakadilan yang menyulut rasa frustasi mereka untuk melakukan “perlawanan”. Tapi rasa keadilan juga yang mengajak nalar dan akal sehat kita untuk mengecam tindakan terorisme mereka. Minimnya wawasan, pengetahuan dan pergaulan internasional serta doktrin agama yang dipahami secara sempit telah menjadikan para skizofrenik itu malah merasakan kebanggaan setelah melakukan teror dan menjadi teroris. Tidak seperti Bush yang menjual demokrasi, kelompok kedua ini menjual Tuhan demi memenuhi tuntutan dan hasrat kegilaan fantasi mereka tentang dunia yang “ideal”.
Fakta bahwa terorisme dengan motif bunuh diri sebenarnya lebih banyak terjadi terkait persoalan politik biasa yang “duniawiyah” dan ketidakadilan sosial, semakin memperkuat asumsi para psikoanalis seperti Sigmund Freud bahwa agama adalah ilusi. Doktrin agama hanya justifikasi belaka dalam banyak kasus terorisme yang terjadi. Apapun alasannya, spiritual atau material, para teroris atau bajak laut yang juga skizofrenik ini sedang melawan terhadap kekuasaan politik dominan negara adikuasa macam Amerika untuk merebutnya dan menggantinya dengan dominasi kekuatan politik baru.
Dengan kekuasaan itu -kalau mereka berhasil merebutnya- entah beraliansi dengan siapa dan pihak mana, toh mereka juga seperti Bush, yang akan menata dunia baru seperti yang mereka persepsikan dalam alam pikirannya yang sudah terjangkit schizoprenia.
Maka peradaban manusia kontemporer hanya akan berpindah dari “mulut buaya ke mulut harimau”. Pola ini juga akan terjadi dalam setiap perebutan kekuasaan di manapun. Percayalah, pertarungan antara mereka ini hanya terkait perebutan kekuasaan dan pengaruh belaka. Politik dagang sapi yang mereka lakukan adalah politik menjual Tuhan, agama, rakyat kecil, serta demokrasi.
Untuk konteks
Pada politikus, kegilaan fantasi berkuasa ini terjadi pada para politikus tua yang penasaran karena masa kekuasaan yang digenggamnya terlalu singkat. Tak ada terlintas dalam pikiran mereka bahwa ada banyak kaum muda yang jauh lebih visioner pandangannya tentang bangsa dan lebih kapabel dari mereka untuk menjadi pemimpin.
Pada selebriti yang berasal dari dunia hiburan, kegilaan fantasi berkuasa muncul dalam bentuk banci tampil. Tak ada kerisihan muncul terhadap gosip kehidupan pribadi yang lebih banyak terungkap daripada prestasi oleh media. keseringan tampil membuat para penguasa ini tak memiliki waktu untuk merenungkan kembali makna kekuasaan dan hakikat dari kekuasaan itu. Jika sempat membaca pandangan Michel Foucault tentang kekuasaan yang tersebar, pastilah mereka tak perlu serakus itu memandang kekuasaan karena kekuasan itu ada di mana-mana.
Dunia yang Flat
Teknologi komunikasi dan informasi (ICT), media, internet dan pergeseran budaya masyarakat abad 21 telah memberikan gambaran jelas bahwa hampir tak ada informasi yang tak bisa diakses. Kondisi ini berkontribusi memberikan kebijaksanaan (wisdom) lebih besar kepada kita untuk melihat yang lain (the others). Yang lain (the others) ini bisa berupa budaya, suku bangsa, agama, dan kecerdasan. Dunia yang telah menjadi kampung global dan flat-meminjam istilah Thomas L Friedman- memberikan kita kesempatan besar untuk mematut diri, bercermin dalam-dalam.
Kecepatan informasi yang tersebar pada detik ini juga di suatu kawasan di belahan dunia lain mempengaruhi tingkat kekritisan kita terhadap realitas. Kecepatan dan kemasifan bahkan banjir informasi itu menyadarkan bahwa terlalu banyak hal menarik yang bisa kita pelajari, renungi, nikmati dan kerjakan. Di luar
Dalam dunia yang flat, kita membutuhkan pemimpin-pemimpin muda yang lahir dari semangat jaman ini. Yang tubuh dan aliran darahnya penuh gejolak zaman yang cepat berubah. Permasalahan masyarakat
Entrepreneur
Seorang skizofrenik menjalankan kekuasaannya tanpa rencana lain selain untuk menciptakan kehidupan yang ideal dan nyaman berdasarkan delusi. delusi inilah yang kemudian dipasarkan kepada masyarakat. Kita jelas tak membutuhkan mereka dalam kehidupan keseharian kita. Apalagi untuk dijadikan pemimpin. Kita membutuhkan seorang entrepreneur.
Ada
Pada akhirnya, saya percaya bahwa sosok entrepreneur akan memenangkan pertandingan melawan para skizofrenik di panggung jaman yang berubah cepat dan publik yang semakin kritis. Jiwa entrepeneur itu akan muncul pada para mahasiswa baru yang lebih kritis. Jiwa entrepreneur itu juga ada pada politisi muda yang kreatif dan cerdas. Jiwa entrepreneur itu juga akan muncul pada selebritis yang lebih mementingkan prestasi ketimbang gosip kehidupan pribadi.
Entrepreneur dari kelas sosial apapun, saat ini dan di masa depan, cepat atau lambat akan menjadi wajah
Misbahudin
Minggu, 20 Juli 2008
Kinerja Panitia Nasional Kongres HMI dipertanyakan
Palembang, Menjelang kongres HMI ke- 26 di Palembang tanggal 28 Juli 2008, tampaknya tidak ada kerja-kerja tim yang baik. Terlihat beberapa koordinator-koordinator bidang menganggur relatif tidak ada kerja. Terlihat Muzakkir sebagai koordinator perlengkapan yang mengeluh tentang kepemimpinan ketua panasko harman syahri. "Hampir semua tugas diambil alih oleh ketua panitia" jelas Muzakkir kecewa.
Hingga berita ini diturunkan tidak ada hiruk-pikuk gaungnya pelaksanaan kongres di palembang ini. Malah yang ramai di sekretariat PB HMI jalan Diponegoro 16 Menteng Jakarta Pusat. Minggu, 20 Juli 2008 merupakan hari terakhir para calon kandidat mendaftarkan diri. Sehingga menjadi ajang "show up power". Agus Salim yang juga salah satu kandidat, turun bersama tim dengan menggunakan mobil taksi Mercy berhenti di pelataran parkir kantor PB HMI. Seharusnya semua panitia kongres sudahberada di lokasi kongres.
Begitu bobroknya kepanitian nasional, hingga tadi malam terjadi simpang siur berita tentang kesiapan penyelenggaraan. Namun demikian, Wawan Hasbuan selaku ketua umum HMI cabang Palembang menyatakan sikap optimis pelaksanaan kongres ini. Dia menilai, secara teknis , persiapan kongres hampir 80%. "Karena memang jauh-jauh hari sudah kami persiapkan dengan matang". pungkasnya.
Hingga berita ini diturunkan tidak ada hiruk-pikuk gaungnya pelaksanaan kongres di palembang ini. Malah yang ramai di sekretariat PB HMI jalan Diponegoro 16 Menteng Jakarta Pusat. Minggu, 20 Juli 2008 merupakan hari terakhir para calon kandidat mendaftarkan diri. Sehingga menjadi ajang "show up power". Agus Salim yang juga salah satu kandidat, turun bersama tim dengan menggunakan mobil taksi Mercy berhenti di pelataran parkir kantor PB HMI. Seharusnya semua panitia kongres sudahberada di lokasi kongres.
Begitu bobroknya kepanitian nasional, hingga tadi malam terjadi simpang siur berita tentang kesiapan penyelenggaraan. Namun demikian, Wawan Hasbuan selaku ketua umum HMI cabang Palembang menyatakan sikap optimis pelaksanaan kongres ini. Dia menilai, secara teknis , persiapan kongres hampir 80%. "Karena memang jauh-jauh hari sudah kami persiapkan dengan matang". pungkasnya.
Debat Kandidat Ketua Umum PB HMI

Jakarta,- Debat Kandidat calon Ketua Umum PB HMI tidak fair. hal ini dikatakan Agus Salim, kandidat kuat yang berasal dari pengurus PB freelance. "Bursa pencalonan ketua Umum PB HMI kali ini tidak profesional, serta tidak adanya sistem yang demokratis di HMI" ujarnya pada pedas.
Agus Salim yang mengenakan batik biru pada debat tersebut tampil sebagai kontestan kandidat ketua Umum dari bursa calon calon independen. Debat kandidat yang diselenggarakan oleh Badko Jabodetabeka-Banten ini dihadiri beberapa kandidat.
"Memang forum ini bukan ajang menjagokan salah satu calon tertentu, dan tidak terlalu penting bagi saya, toh adik-adik cabang tetap mendukung full saya" ujar Agus. Forum debat kandidat yang diselenggarakan pada malam hari di Gedung Joeang ini dihadiri beberapa kandidat diantaranya Agus Salim, Muslim Hafidz, Natsir, dll.
Para kandidat dicecar beberapa pertanyaan dari para peserta yang antusias, namun sepertinya peserta selalu kurang puas dengan jawaban kandidat. "Kalian di depan itu tidak pantas mimpin HMI, mimpin dari kalian sendiri aja gak bisa, sehingga kinerja PB HMI bobrok" cetus seorang kader dari cabang Jakarta Raya.
Jumat, 18 Juli 2008
Menjelang Kongres HMI ke-26 di Palembang tahun 2008
Palembang,-
Sepuluh hari menjelang pelaksanaan kongres HMI ke-26 di Palembang, sangat dinanti oleh ratusan ribu kader HMI di 171 cabang yang tersebar di seluruh Indonesia. Pasalnya, kongres merupakan momentum pengambilan keputusan tertinggi dalam organisasi, memilih Formatur Ketua umum PB HMI, membahas internalisasi organisasi, konstitusi atau AD/ART, dan rekomendasi.
Pergantian pengurus ditubuh HMI merupakan ritual tiap dua tahunan periodesasi organisasi. Beberapa kandidat calon Ketua Umum PB HMI tampak terlihat datang di sekretariat PB HMI jalan Diponegoro 16 A Menteng Jakarta Pusat untuk mengambil formulir pendaftaran yang kemudian formulir tersebut akan dikumpul selambat-lambatnya tanggal 20 Juli 2008 sebelum pukul 00.00 Wib. beserta rekomenai dukungan tertulis minimal lima cabang. Para Kandidat Calon Ketua Umum PB HMI itu antara lain Hasbullah Khatib, Arif Mustafa, Andi Sukmono Kumba, Adi Wibowo, Muslim Hafidz, Nimran Abdurrahman, Muhammad Nasir, Minarni, Farhan Syuhada, Jailani Parandy, Muhammad Arfan, dll. Calon diperkirakan mencapai 17 orang, sedangkan nama-nama kandidat yang lain menunggu.
Sedangkan salah satu kandidat Kontroversi Agussalim belum terlihat dalam daftar pengambilan formulir. Agussalim merupakan kader HMI Palembang yang juga sebagai kandidat independen ini membuat gempar bursa nama-nama calon kandidat. Beberapa praktisi politik berpendapat bahwa majunya agussalim sebagai kandidat menjadi "sock theraphy" bagi politik HMI. Ia bagai kuda hitam yang tiba-tiba hadir. Kandidat yang diusung oleh alumni politisi dan konglomerat ini menanggapi santai ketika insan pers mewawancarai" ya, saya maju karena adik-adik" lugasnya santai. Melalui media kampanyenya agussalim, "the Pedas Post" mengangkat tema "Evolusi belum selesai" beserta sekelumit visi dan misi agussalim.
Kongres kali ini merupakan momentum perubahan HMI. Karena HMI sekarang secara gerakan tidak terlihat lagi dan cenderung sendiri-sendiri. Kader HMI kehilangan orientasi dan tidak mampu bersaing baik secara jaringan maupun intelektual dan keterampilan. "Kader HMI tertinggal jauh" ujar Deliar Noer beberapa waktu yang lalu. (17/07/08)
Langganan:
Postingan (Atom)


