Suatu hari, seorang mantan PB HMI datang menemui salah satu alumni pejabat yang punya banyak perusahaan.“Bang, saya sudah selesai di PB HMI. Ada petunjuk, Bang? Saya butuh pekerjaan. Tak perlu posisi tinggi, yang penting ada penghasilan rutin,” ujarnya.
“Oke, bagaimana jika kamu jadi caleg no 1 di partai Abang? Dijamin pasti jadi,” jawab sang Alumni.
“Itu terlalu tinggi buat saya, Bang,” timpalnya.
“Kalau begitu, jadi komisaris BUMN, bagaimana? Gajinya gede!”
“Itu juga masih terlalu tinggi.”
“Hmmm, bagaimana kalau staf ahli wakil presiden. Tidak terlalu tinggi, tapi gajinya lumayan.”
“Itu juga masih terlalu tinggi.”
“Terus apa maunya kamu?” kejar si Alumni setengah kesal.
“Begini saja, Bang. Bagaimana kalau saya bekerja di perusahaan Abang, gaji dua juta bolehlah.”
“Wah!, Jangan! Bisa rusak perusahaan saya. Perusahaan saya butuh orang yang profesional dan punya integritas!” jawab si Abang dengan cepat dan nada tinggi.
“Sudahlah! Kamu jadi staf anggota DPR saja. Titik!” lanjutnya.
***
Kisah tadi diceritakan seorang teman yang beberapa waktu bertemu. Kami sama-sama pernah aktif di PB HMI, saat ini dia sedang UI alias udar-ider (bahasa sunda: luntang-lantung). Kerjanya cuma beraktifitas di Senayan daripada nganggur. Katanya sih jadi staf ahli anggota dewan.
Setelah dia pulang, saya merenungi cerita itu. Sepanjang yang saya tahu, dia merupakan aktivis yang disegani di kalangan HMI. Banyak kader-kader HMI yang berkeinginan seperti dia, karena dia adalah representasi figur HMI saat ini.
Cuap-cuap politik atau hal lain, dia jagonya.
Bikin formatur (forum mahasiswa untuk dirental)? sudah biasa.
Perhatian sama perkaderan? so pastilah.
Kader penurut? sudah barang tentu, buktinya ia biasa terima pesanan.
Jaringan? Jangan ditanya, tiap hari dia bisa ditemui di Senayan, walaupun ruang kerjanya hanya di lift.
Lalu apa masalahnya? Sampai-sampai punya keinginan jadi pegawai biasa saja tidak bisa.
***
Kalau diingat-ingat, semua kader berpikir perkaderan, buktinya training-training jalan terus. Bahkan peserta yang tidak lulus minta diluluskan. Demi perkaderan, bahkan ada alumni yang menelepon, protes dan marah-marah akibat kadernya tidak diluluskan, juga dengan alasan demi perkaderan.
Jadi mungkin hanya para instruktur dan master of training yang nggak pernah mikir demi perkaderan, karena keukeuh untuk tidak meluluskan peserta yang tidak memenuhi kriteria. Walaupun sudah mintai sampai mengancam dengan alasan demi perkaderan.
Bicara pengelolaan organisasi, HMI tidak akan ketinggalan jaman lah, kan organisasi modern. Ketika orang-orang baru melek teknologi, HMI? Wah..jauh dong. Pokoknya membicarakan HMI bakalan nggak ada matinya deh”.
Tapi, kalo bicara peran dan kualitas HMI (yang direpresentasikan keseharian kadernya) buat umat dan bangsa hari ini, baru “Bicara apaan sih...?”.
ENCEP HANIF AHMAD h@nif.web.id

Tidak ada komentar:
Posting Komentar