Kacamata berwarna merah cerah, pilihan model baju casual, membuatnya tampil funky. Namanya Lowreyta. Mahasiswi Jurusan hubungan Internasional. Prestasi akademiknya bagus. Ia jadi duta kampusnya untuk anugerah beasiswa Djarum. Sesekali ia pergi menikmati klabing di tempat-tempat party dengan gengnya. Sering juga ia dipanggil miss Condee, Mungkin karena wajah Ambonnya mirip dengan menlu AS Condoleezza Rice.Chattra Mahotama adalah sosok lainnya. Sedikit chaos dalam berbusana. Ke kampus, ia sering gonta-ganti kendaraan. VW kodok tua atau sebuah motor antik bergiliran ditungganginya. Ia vokalis bandnya yang sebentar lagi merilis album. Tak ada yang menyangsikan penampilan panggungnya yang ciamik. Hobby fotografi dan menggambar membuat Chattra memilih jurusan desain komunikasi visual.
Nama selanjutnya adalah Priyo Utomo. Sebagian anak muda mungkin masih sulit mengidentifikasikan diri jika tak disebut sekedar mengikuti tren gaya hidup popular. Tapi, Priyo adalah anomali. Ia telah mengidentifikasikan dirinya sebagai seorang Punk Philosopher. Cara berdandannya nyentrik. Ia laiknya Bob Dylan. Bisa jadi karena koleksi buku-buku dan filmnya yang melimpah plus pengalaman sempat dua tahun kuliah di New Zealand, analisisnya tentang musik, film dan budaya pop sering jadi rujukan lagi terpercaya. Ia munyukai berlatih teater. Priyo ingin berbisnis setelah lulus. Ia memilih jurusan falsafah dan agama, mungkin karena ia pernah naik haji.
Lowreyta, Chattra dan Priyo adalah mahasiswa di universitas Paramadina. Hobby, minat, dan latar belakang mereka berbeda ibarat pelangi, berwarna warni dan kaya, begitu plural. Persepsi mereka juga berbeda terhadap Nurcholish Madjid atau Cak Nur, pendiri Paramadina, tempat mereka belajar dan menghabiskan waktu luang. Lowreyta misalnya, mengaku hanya tau bahwa Cak Nur itu adalah orang baik. Ia memang belum banyak membaca karya-karya Cak Nur dan pemikirannya.
Generasi Post-Religion
Ada di situasi dan era era manakah manusia-manusia baru yang sedang disemai dalam sistem pendidikan Paramadina seperti Lowreyta, Chattra, Priyo?
Komarudin Hidayat, dalam pidato kebudayaannya pada Nurcholish Madjid Memorial Lecture (September 2007) menyebutkan istilah era post-religion. Era ini menurutnya adalah sebuah era ketika norma, kesadaran dan lembaga keagamaan tidak lagi menjadi pusat gravitasi. Agama hanya menjadi sebuah subkultur, kadang maju dan terdesak ke pinggir, timbul tenggelam dalam dalam budaya yang pluralistik dan virtualistik. Era post-religion akan menggusur dominasi dan hegemoni alam batin dan kondisi sosial dari sifatnya dulu yang serba religius. Kini bermunculan aktor-aktor dan pusat kekuatan baru yang yang sangat digjaya mempengaruhi kesadaran batin dan perilaku sosial kita. Aktor-aktor itu adalah negara, modal yang bergerak lintas bangsa dan agama, serta teknologi informatika ultra modern yang melahirkan virtual society.
Jika menyebut aktor dalam era ini yang mempunyai kekuatan digjaya karena penguasaannya atas negara superpower bermodal besar-meminjam istilah Yasraf Amir Piliang (kompas,2003), maka ancaman akan datang dari para pemimpin Schizoprenik yang suka mengobarkan Schizo-War model George W Bush. Manusia-manusia baru yang disemai dalam sistem pendidikan Paramadina dan menjadi generasi post-religion tengah menghadapi tantangan dan dipaksa melawan fantasi liar pemimpin Schizoprenik yang berusaha mengacaubalaukan tanda dan makna. Penanda dan petanda ini oleh pemimpin schizoprenik diaduk-aduk dan diputar balik dalam bahasa komunikasi perang. Kata “kemanusiaan” digunakan untuk menjelaskan realitas “pembantaian”, dan kata “pencerahan” digunakan untuk menjelaskan sebuah realitas “penjajahan”.
Namun Komarudin juga menyampaikan optimismenya untuk menyongsong era post-religion ini dengan penuh keyakinan. Evolusi dan metamorfosis peradaban menurutnya bergerak maju dan menyesuaikan diri. Krisis ibarat musim gugur yang akan diganti musim semi dengan tunas dan daun baru yang segar. Identifikasi benih dan dorongan bagi percepatan gerakan akan melahirkan revolusi. Masih ada kesempatan bagi generasi post-religion untuk menggelorakan kesadaran dan gerakan global bagi perdamaian, pluralisme, kemanusiaan yang beradab, dan solidaritas, serta penolakan atas segala bentuk kekerasan, perang, dan ketidakadilan.
Cak Nur mewariskan dan melembagakan pikiran-pikirannya melalui Paramadina. Dan Paramadina telah menjadi bidan yang baik bagi kelahiran generasi post-religion. Kemerdekaan dan kebebasan untuk berekspresi melalui Paramadina dihargai. Sebagai seorang penganjur sekulerisasi objektif, pandangan keagamaan serta cara melihat diri dan lingkungan, di Paramadina berangsur-angsur lahir dan meluas melalui suatu proses kesadaran. Paramadina telah berhasil mendesain terjadinya melting pot, bertemunya pikiran-pikiran kreatif serta ragam aktifitas yang menjadi basis lahirnya sebuah peradaban baru yang lebih humanis dan tercerahkan.
Ruang Baru Bagi Gagasan Cak Nur
Keindonesiaan, Keislaman dan Kemodernan, adalah tiga isu yang menjadi konsen Almarhum Cak Nur. Dalam konteks ini pikiran-pikiran Cak Nur masih menginspirasi. Gagasannya boleh dikatakan melambung ke depan, melampaui zamannya. Sebagai seorang yang biasa menelurkan visi-visi besar, ruh, spirit, dan pikirannya akan terus membayangi. Sebagai seorang scholar muslim, ia telah menggali dan menunjukkan Islam yang universal. Cak Nur menunjukan bahwa penemuan-penemuan manusia modern, sebenarnya tidak asing di dalam khazanah Islam dan memiliki akarnya dalam tradisi Islam.
Hal lain yang menarik dan bisa dijadikan alasan mengapa Cak Nur dan pikirannya masih relevan untuk diikuti selain sifat gagasannya yang visioner adalah integritas pribadi dan kesalehan. Saat teknologi informasi semakin memberikan pilihan yang terbuka terhadap ragam pengetahuan, gagasan, pemahaman, pemikiran, dan ideologi untuk diikuti, otoritas menjadi penting. Integritas pribadi dan ketajaman visi akhirnya menjadi basis bagi trust dan magnet bagi pikiran-pikirannya untuk dibaca dan diikuti. Cak Nur dan Paramadina adalah ensiklopedi, sebuah rujukan utama untuk mencari representasi kelas sosial muslim Indonesia modern yang beradab.
Teman-teman dan sejawat Cak Nur sebagai kelompok yang terlibat langsung pengimplementasian gagasan-gagasan Cak Nur, adalah generasi pertama yang cukup apresiatif serta berhasil menjadikan Cak Nur manusia ensklopedis dan melembagakan Paramadina menjadi sebuah institusi pendidikan yang representatif. Sebaliknya, generasi post-religion adalah generasi pasca Cak Nur yang hanya menikmati materialisasi gagasan-gagasannya. Lalu bagaimana menjadikan potensi yang dimiliki generasi ini sebagai kekuatan untuk menjaga dan mewariskan pikiran-pikirannya? Jawabannya adalah dengan mengenali karakteristik generasi post-religion yang mengakrabi teknologi informasi ultra modern, cara belajar yang lebih visualistik, dan model hubungan pertemanan yang bersifat jejaring, maka gagasan-gagasan Cak Nur harus ditempatkan dan diartikulasikan dalam bahasa-bahasa serta ruang imajinasi keseharian mereka. [ ]
Misbahudin

Tidak ada komentar:
Posting Komentar