Kamis, 24 Juli 2008

Skizofrenik; Politikus yang Sakit Kepala

Politikus muka lama yang terus bertahan di panggung politik berebut kekuasaan dan selebritis bergaya hidup mewah penuh gosip tapi minim prestasi adalah wajah Indonesia paling dominan dan paling sering tampil saat ini. Wajah lain dari Indonesia kontemporer lebih sedikit terekam dan tersorot kamera atau berita. Wajah lain ini adalah wajah mayoritas yang diam (silent majority). Meski “diam” dan lebih banyak menonton, inilah wajah keseharian Indonesia yang sebenarnya.

Mirip Indonesia, wajah Amerika setelah peristiwa 911 didominasi politikus seperti Bush dengan kegilaan fantasi perangnya . Demikian Yasraf Amir Piliang, ahli semiotika menuliskan (Kompas, 2003). Bush dikategorikannya sebagai salah seorang penguasa dan politikus sakit jiwa yang menderita Skizofrenia. Skizofrenia, penyakit kejiwaan ganda itu telah melambungkan alam pikiran Bush sehingga perang melawan teror baginya adalah usaha untuk menata dunia baru yang “damai”. Dalam fantasinya menata suatu dunia baru, Alqaidah dan Saddam Hussein adalah setan yang harus diperangi karena telah menjadi pelaku teror global. Noam Chomsky kemudian memberi gambaran bahwa kampanye perang Bush melawan terorisme adalah ibarat kisah sang kaisar dan bajak laut. Kaisar tidaklah disebut perompak karena ia punya kekuasaan besar atas nama negara. Sementara bajak laut adalah teroris karena melakukan tindakan kriminal melawan negara.


Sosok skizofrenik lainnya adalah tokoh kelompok teroris yang mengklaim melakukan pembunuhan itu atas perintah agama. Osama (Islam), serta Baruch Goldstein (Yahudi) adalah contoh pas dari sosok teroris skizofrenik itu. Empati bisa saja diberikan kepada mereka akibat adanya ketidakadilan yang menyulut rasa frustasi mereka untuk melakukan “perlawanan”. Tapi rasa keadilan juga yang mengajak nalar dan akal sehat kita untuk mengecam tindakan terorisme mereka. Minimnya wawasan, pengetahuan dan pergaulan internasional serta doktrin agama yang dipahami secara sempit telah menjadikan para skizofrenik itu malah merasakan kebanggaan setelah melakukan teror dan menjadi teroris. Tidak seperti Bush yang menjual demokrasi, kelompok kedua ini menjual Tuhan demi memenuhi tuntutan dan hasrat kegilaan fantasi mereka tentang dunia yang “ideal”.


Fakta bahwa terorisme dengan motif bunuh diri sebenarnya lebih banyak terjadi terkait persoalan politik biasa yang “duniawiyah” dan ketidakadilan sosial, semakin memperkuat asumsi para psikoanalis seperti Sigmund Freud bahwa agama adalah ilusi. Doktrin agama hanya justifikasi belaka dalam banyak kasus terorisme yang terjadi. Apapun alasannya, spiritual atau material, para teroris atau bajak laut yang juga skizofrenik ini sedang melawan terhadap kekuasaan politik dominan negara adikuasa macam Amerika untuk merebutnya dan menggantinya dengan dominasi kekuatan politik baru.


Dengan kekuasaan itu -kalau mereka berhasil merebutnya- entah beraliansi dengan siapa dan pihak mana, toh mereka juga seperti Bush, yang akan menata dunia baru seperti yang mereka persepsikan dalam alam pikirannya yang sudah terjangkit schizoprenia.


Maka peradaban manusia kontemporer hanya akan berpindah dari “mulut buaya ke mulut harimau”. Pola ini juga akan terjadi dalam setiap perebutan kekuasaan di manapun. Percayalah, pertarungan antara mereka ini hanya terkait perebutan kekuasaan dan pengaruh belaka. Politik dagang sapi yang mereka lakukan adalah politik menjual Tuhan, agama, rakyat kecil, serta demokrasi.


Untuk konteks Indonesia, kegilaan fantasi akan “kekuasaan” melanda para politikus dan selebriti yang sering tampil itu. Seperti Bush dan Osama, mereka adalah sosok-sosok skizofrenik juga.

Pada politikus, kegilaan fantasi berkuasa ini terjadi pada para politikus tua yang penasaran karena masa kekuasaan yang digenggamnya terlalu singkat. Tak ada terlintas dalam pikiran mereka bahwa ada banyak kaum muda yang jauh lebih visioner pandangannya tentang bangsa dan lebih kapabel dari mereka untuk menjadi pemimpin.


Pada selebriti yang berasal dari dunia hiburan, kegilaan fantasi berkuasa muncul dalam bentuk banci tampil. Tak ada kerisihan muncul terhadap gosip kehidupan pribadi yang lebih banyak terungkap daripada prestasi oleh media. keseringan tampil membuat para penguasa ini tak memiliki waktu untuk merenungkan kembali makna kekuasaan dan hakikat dari kekuasaan itu. Jika sempat membaca pandangan Michel Foucault tentang kekuasaan yang tersebar, pastilah mereka tak perlu serakus itu memandang kekuasaan karena kekuasan itu ada di mana-mana.


Dunia yang Flat

Teknologi komunikasi dan informasi (ICT), media, internet dan pergeseran budaya masyarakat abad 21 telah memberikan gambaran jelas bahwa hampir tak ada informasi yang tak bisa diakses. Kondisi ini berkontribusi memberikan kebijaksanaan (wisdom) lebih besar kepada kita untuk melihat yang lain (the others). Yang lain (the others) ini bisa berupa budaya, suku bangsa, agama, dan kecerdasan. Dunia yang telah menjadi kampung global dan flat-meminjam istilah Thomas L Friedman- memberikan kita kesempatan besar untuk mematut diri, bercermin dalam-dalam.


Kecepatan informasi yang tersebar pada detik ini juga di suatu kawasan di belahan dunia lain mempengaruhi tingkat kekritisan kita terhadap realitas. Kecepatan dan kemasifan bahkan banjir informasi itu menyadarkan bahwa terlalu banyak hal menarik yang bisa kita pelajari, renungi, nikmati dan kerjakan. Di luar sana ada terlalu banyak orang cerdas, kreatif, dan berbakat. Ada begitu banyak pilihan untuk menyukai banyak hal di tengah dunia yang sudah seperti ini.


Dalam dunia yang flat, kita membutuhkan pemimpin-pemimpin muda yang lahir dari semangat jaman ini. Yang tubuh dan aliran darahnya penuh gejolak zaman yang cepat berubah. Permasalahan masyarakat Indonesia abad 21 berbeda dengan masalah yang dihadapi era tahun 45-an sampai era 90-an lalu. Menurut Dino Pati Djalal, Jubir presiden SBY, di abad 21 ini kita membutuhkan pemimpin yang memiliki semboyan dan slogan baru. Slogan yang lebih sesuai dengan semangat jaman.


Entrepreneur

Seorang skizofrenik menjalankan kekuasaannya tanpa rencana lain selain untuk menciptakan kehidupan yang ideal dan nyaman berdasarkan delusi. delusi inilah yang kemudian dipasarkan kepada masyarakat. Kita jelas tak membutuhkan mereka dalam kehidupan keseharian kita. Apalagi untuk dijadikan pemimpin. Kita membutuhkan seorang entrepreneur.


Ada
perbedaan siginifikan dalam memandang kekuasaan dari seorang skizofrenik dan seorang entrepreneur. Seorang entrepreneur mempertahankan kekuasaan dan hegemoninya dengan menjual skill, trust dan integritas pribadi. Ia berkomitmen pada kepuasan pelanggan (publik) dengan tak mau menjual delusi agama, demokrasi, dan keberpihakan pada rakyat. Ia akan bekerja keras untuk menjaga komitmennya dan konsisten dengan visinya.

Pada akhirnya, saya percaya bahwa sosok entrepreneur akan memenangkan pertandingan melawan para skizofrenik di panggung jaman yang berubah cepat dan publik yang semakin kritis. Jiwa entrepeneur itu akan muncul pada para mahasiswa baru yang lebih kritis. Jiwa entrepreneur itu juga ada pada politisi muda yang kreatif dan cerdas. Jiwa entrepreneur itu juga akan muncul pada selebritis yang lebih mementingkan prestasi ketimbang gosip kehidupan pribadi.


Entrepreneur dari kelas sosial apapun, saat ini dan di masa depan, cepat atau lambat akan menjadi wajah Indonesia yang lebih sering tampil dan populer menyingkirkan para politikus tua yang sekarang nampang di iklan maupun selebriti lama yang basi dan miskin ide. Michel Foucault benarlah belaka pendapatnya bahwa kekuasaan itu tersebar dan terbagi. Abad 21 adalah abad di mana para skizofrenik harus segera sadar dari kegilaan fantasinya.


Misbahudin

Tidak ada komentar: