Kamis, 24 Juli 2008

Malu Aku di Pengurus Besar

Jika kongres pada akhirnya hanya untuk menyusun daftar nama anak muda disorientasi di sarang pengurus besar, alangkah sia-sia ribuan orang yang datang ke acara ini.

MARI kita buka kartu dan tak perlu tedeng aling-aling. Ini zaman banal dalam tempurung kepala yang bebal. Kritik harus disampaikan dalam bentuk yang paling verbal, bila perlu ditambah sedikit kata-kata kasar, agar kita sadar bahwa ada sesuatu yang sedang membusuk di dada dan kepala kita.

Mari kita buka kartu dan tak perlu malu-malu, karena kita- ribuan orang yang datang ke acara kongres ini-, sebenarnya tak tahu apa yang sedang kita cari. Kita datang berjibaku untuk perang melawan apa, dan kalah-menang atas siapa? Kabarnya kita datang untuk membahas hal-hal pokok keorganisasian, seperti nilai dasar, prosedur kelembagaan, atau rekomendasi organisasi atas berbagai persoalan di republik ini.


Tapi nyatanya di antara kita tak ada riuh rendah tentang itu. Di kongres ini kepala kita tidak untuk jungkir-balik demi hal-hal yang “abstrak” seperti bangsa dan negara.
Mari kita buka kartu, kita datang ke acara ini hanya untuk mendapati diri sendiri di antara ribuan orang yang berdesak-desakan ingin masuk ke sebuah sarang yang bernama pengurus besar.

Kabarnya pengurus besar adalah jenjang prestisius, di mana yang bisa masuk kedalamnya akan menjadi pendekar politik tingkat tinggi. Begitu tinggi tingkat kependekaran itu, hingga bisa keluar masuk rumah presiden dan menteri. Bahkan kelak, pengurus besar adalah calon-calon penghuni pentas politik nasional. Alangkah malang mereka yang termakan mitos dan bualan semacam ini.

MARI kita buka kartu dan tak perlu ragu, dari periode ke periode paling mutakhir, tak ada lagi yang bisa dibanggakan dari pengurus besar yang dulu pernah punya nama besar itu.
Sebagai organisasi tingkat nasional, pengurus besar tak lagi mengandung tema-tema yang menarik untuk diperbincangkan. Di sana tak ada dinamika, gelora, suspens, harap-harap cemas, karena orang-orang didalamnya bingung dengan diri mereka sendiri. Ingin menyebutnya organisasi mahasiswa, tapi bergaya politisi. Ingin menyebutnya praktisi politik, nyatanya cuma “pesuruh” anggota dewan.

Akibatnya, kantor di Jl Diponegoro 16 A kini tak ubahnya rumah penampungan pemuda disorientasi yang hobinya keluar masuk gedung pemerintah tanpa maksud dan tujuan.
Begitu sibuk mereka dengan “kegiatan” itu, hingga kantor mereka relakan jadi sepi melompong, kotor, dan menjadi sarang laba-laba. Di sana hanya ada koran berserak, komputer hilang, dan abu rokok.

MARI kita buka kartu dan tak perlu ragu, pengurus besar hampir tak pernah melakukan apa-apa dari periode yang satu ke periode berikutnya. Mereka tidak masuk koran karena tak ada yang layak untuk diberitakan. Mereka tak mendapat dukungan, karena tak ada perlawanan. Mereka tak mengalami kegagalan karena tak ada yang diperjuangkan. Mereka absen dari koalisi lintas organisasi karena tak punya komitmen dan kepercayaan.

Kalaupun melakukan sesuatu, pekerjaan mereka tak lebih sebagai event organizer diskusi dan hal-hal lain yang selesai begitu saja ketika acara bubar. Satu-satunya kecanggihan mereka adalah hasil kegiatan yang tak bisa dilaporkan, dan keuangan yang tak bisa dihitung-bukukan.
Selebihnya mereka sibuk dengan diri sendiri. Yang menjadi ketua tak tahu apa yang dikerjakan bawahannya, yang menjadi bawahan tak tahu dimana ketuanya berada. Pengurus besar menjadi lembaga petak-umpet tingkat nasional.

Karena kesibukan petak-umpet yang mereka sebut mobilitas itu, mereka gagal bergaul dengan pemuda-pemuda lain yang sibuk melakukan pemberdayaan. Mereka nervous di tengah generasi yang sibuk berkarya dan mencipta. Mereka tersisih diantara demonstran dan gerakan perlawanan.

Pengurus besar canggung diantara anak muda yang sibuk berdiskusi tentang teknologi informasi, anti diskriminasi, film independen, korporasi multinasional.
Mereka kehilangan panggung karena makalah yang mereka rupanya berjudul: Revitalisasi Gerakan Pemuda antara Idealita dan Konteks Hari Ini, Optimalisasi Pemuda dalam Tataran Ide dan Tataran Praksis 2010-2020, Membaca Ulang Kejuangan Pemuda dalam meningkatkan Globalisasi.

KARENA tersisih dari pergaulan, mereka akhirnya pulang ke kandang sendiri. Di sana tak ada musuh, akhirnya teman menjadi lawan. Mereka “berkelahi” berebut jabatan. Mereka menerapkan politik tingkat tinggi untuk menjatuhkan teman seiring. Segala macam strategi mereka kerahkan untuk konflik, perpecahan, sikut-sikutan, jenggut-jenggutan, gunting dalam tikungan, salip dalam lipatan. Dan itu semua mereka sebut sebagai political exercises atau pembelajaran politik. Hallo, Kader. Sudah bangun?

Khairul Anom khairulanom@yahoo.com

2 komentar:

de'sulo mengatakan...

Muantaaap....ngena banget kyaknya buat pengurus besar ini!

Unknown mengatakan...

Selain dari itu, kita begitu seolah-olah cerdas, juga begitu kritis di meja warung kopi..
Ada juga yg gemar mengelola petasan lewat tulisan, saat di picu akan meledak..
Mari kembali ke komisariat..