Kamis, 24 Juli 2008

“Saya Adalah Prototip Paling Sempurna”

Majunya Agus Salim sebagai salah satu kandidat ketua umum PB HMI pada kongres ke 26 di Palembang, mengundang perdebatan di berbagai kalangan. Agus yang tampil sebagai sosok baru dengan wajah lama ini, dinilai tidak memiliki kapasitas untuk memimpin lembaga tersebut. Untuk menggali lebih jauh visi dan pemikiran Agus Salim, Pedas menurunkan wawancara dengan kader asal Palembang ini.

Sayangnya, Agus yang tengah berada di Shanghai dalam rangka mengunjungi komunitas copet asal Palembang di sana, enggan dihubungi. Bahkan sms-pun tak berbalas. Namun untuk tidak mengecewakan pembaca, redaksi tetap menyajikan wawancara ekslusif tersebut dalam kemasan imajiner. Berikut kutipan utuhnya.

Anda serius, maju sebagai kandidat?
Pertanyaan anda yang tidak serius.

Tapi anda dinilai tidak memiliki kapasitas?
Justru karena itu saya maju. Saya belajar dari pengalaman pilpres dan pilkada yang justru memenangkan orang-orang yang tidak punya kapasitas.

Lantas apakah anda bisa memimpin?
Pertanyaan anda salah. ‘Bisa memimpin’ tidak menjadi prasyarat pemilihan di negeri ini. Yang menjadi pertanyaan budaya politik kita adalah, apakah anda punya uang dan punya massa.

Dalam pencalonan ini, apakah anda punya uang dan punya massa?
Pertanyaan anda seharusnya memilih salah satu, uang atau massa. Sebab jika saya punya uang, saya bisa membeli massa. Atau jika saya punya massa, saya bisa menarik uang.

Oke. Dalam pencalonan ini, apakah anda punya uang?
Tidak. Jika saya punya uang, saya tidak akan mencalonkan diri menjadi ketua PB HMI. Saya disini justru sedang mencari uang.

Berarti anda punya massa?
Tidak juga. Karena susah dapat massa di HMI jika tidak punya uang.

Lantas apa yang anda punya?
Saya tidak punya apa-apa.

Berarti anda tidak layak menjadi ketua PB HMI?
Layak? Berat sekali anda membebani saya dengan kata-kata layak hanya untuk bisa memimpin PB HMI. Anda pikir kandidat-kandidat lain adalah orang-orang yang layak.
Tentu mereka layak. Sebab jika tidak, mana mungkin mereka menjadi pengurus besar?
Anda berlebihan menilai pengurus besar. Buat saya, mereka itu adalah orang-orang tidak punya banyak pilihan atau kalah bersaing di bidang lain, sehingga tetap berorganisasi mahasiswa. Mereka belum mampu untuk beranjak dari sana.

Lantas apa yang membuat anda tertarik maju sebagai kandidat?
Jelas. Umur saya tua, saya tidak punya pekerjaan, saya tidak punya keahlian. Saya adalah prototip paling sempurna sebagai ketua PB HMI.

Berarti HMI tidak bermutu, dong?
Picik sekali pandangan anda. Sebagai jurnalis anda tidak pantas membuat pertanyaan itu.

Lantas bagaimana?
Dengar, HMI itu adalah sebuah entitas besar yang bahkan tidak bisa diwakili oleh segelintir orang yang menjadi pengurusnya. HMI adalah rumah yang begitu luas, dan siapapun yang masuk kedalamnya akan memperlakukan satu dengan yang lain layaknya saudara. Sebagai saudara, mereka belajar, berbuat sesuatu, mencari jodoh, dimana pergaulan mereka demikian jujur karena tak ada lagi status sosial dan perangkat artifisial lainnya. Bayangkan kekuatan mana yang bisa membangun infrastruktur semacam ini.

Dengan persaudaraan itulah HMI menjadi ajang mobilitas yang membawa mahasiswa dari Sabang berkunjung ke Merauke, dan mahasiswa Merauke singgah ke Sabang. HMI telah memperkaya kehidupan mahasiswa. Mungkin tanpa HMI mahasiswa tidak kemana-mana, yang di kota tetap di kota, yang di pedalaman tetap di pedalaman.

Memang, ada segelintir anak-anak HMI dan orang-orang disekelilingnya yang ingin memanfaatkan lembaga ini untuk memuaskan nafsu untuk berkuasa, tapi ini adalah resiko dalam kehidupan. Dan orang-orang semacam ini akan punah dengan sendirinya seiring dengan semakin beradabnya masyarakat kita. Begitu ...

Sudah?
Belum.

Ada lagi?
Jadi begini. Kita ini kan... ah sudahlah. Tidak bagus juga terlalu banyak bicara. Ya, kan?

Betul
Oke, ya kalau begitu.
Oya, untuk amplop wawancara ini, silahkan hubungi sekretaris pribadi saya.

Maaf, saya tidak terima amplop
Wah, bagus itu. Sebagai wartawan anda punya integritas. Anda pasti lulusan Bakornas Lapmi HMI.

Kok anda tahu?
Ente ini gimana, kita kan tinggal se-rumah.

He..he...he...Sudah, ya?
Terserah Ente, lah. Ente sendiri yang bikin, kok pake’ nanya saya. Mau lanjut juga, kan ente sendiri yang jawab. Aku kan cuma imajiner.
Tapi kalau boleh minta, tolonglah kalo menampilkan fotoku jangan keterlaluan. Sedikit elegan, lah.

Lho, foto di samping ini kan elegan. Mirip Bung Karno justru?
Iya sih. Tapi gambar di halaman 7 itu, masak aku disamain monyet, yang benar saja. Aku ini kan kandidat, jadi tolonglah?

Oke lah kalau begitu. Oya, apa nih yang bisa kita bantu, Pak Kandidat?
Itulah. Kalau bisa kamu sounding-sounding-lah ke alumni. Pening juga kepalaku ini. Masak ada cabang yang minta mobil. Aya-aya wae adek-adek ini, pikirnya kita banyak duit.
Mana rokokmu, asem juga mulut ini ngomong terus.

Jadi berapa nih, cabang yang sudah fiks?
Akh, susah kalo ngomong itu. Mereka ini enggak ada yang bisa dipegang. Kemaren ngomong begitu, sekarang bisa ngomong begini. Mana koreknya?

Lho, katanya MC sudah bagi-bagi “amplop”?
Tetep. Mereka ini sudah seperti asbak, semua kandidat ditampung. Enggak ada yang idiologis. Susah kalo orientasinya uang. Makanya sekarang ini, cabang yang pasti-pasti aja yang kita rawat. Itu juga masih ada yang kena olah.

Iya, ya. Sekarang ini justru cabang yang mainin kandidat. Jadi gimana kita bisa ngomong idealisme kalo begini. Rusaknya sudah merata. Padahal...
Udahlah! capek ngomong serius. Mending kita ngomong yang bening-bening. Ya, dak?
Anin itu manis juga ya, kalau dilihat dari sini.

Anen, pake “e”. Dia bukan manis, tapi sendu.
Ya...ya...ya...Sendu, seneng duit. he..he..he...
Bisa enggak, kamu sonding-sonding aku ke dia.

Berat, Bos. Anak Paramadina. Dia bawaannya Mercy. Enggak kemakan sama Kak Agus. Kalo mau, Ayu aja. dia juga manis.
Ayu? yang mana fotonya?

Di halaman satu. Enggak keliatan dari sini.
Bolehlah. Kau kirimlah salam buat dia. Bilang: dari Kak Agus, kandidat Ketua Umum PB HMI. Pemuda Palembang tulen. Ya, dak? Atau jangan-jangan Ayu itu dari Palembang, jugo?

Bukan. Dia orang Padang.
Bolehlah. Nanti kalau sukses, kau jadi Ketua PAO dan Infokom sekaligus. Mantap, kan?

Siiiiiplah!

(Anom/Misbah)

15 komentar:

Blog Admin mengatakan...

kenthirrr
edhan
tapi lucu
juga jujur
aq salut
(aq alumni hmi jokja)

Kilas Demokrasi mengatakan...

Luar biasa, akurasi dan presisi nya tidak ada yg meleset

Unknown mengatakan...

Lumayan juga.. hehehe

Unknown mengatakan...

Hahaha.....kocak, tapi sinis dgn kondisi masyarakat sekarang, sindirannya kena sekali. Salut deh dengan wawancara imajinernya.

masfebrian mengatakan...

Mantap...ini pasti kerjaan kawan lapmi..satire nya luar biasa...

Unknown mengatakan...

Keren Bro, itu potret beberapa kongres kemarin yaa? Jadiin novel dong...
Btw gk ada proyeksi kongres pekanbaru ni? Kaya kandidat pada tiarap semua ni...wkwkwk...

Unknown mengatakan...

Pass banget

halim mengatakan...

Ya smw hanya semacam loby".

halim mengatakan...

Ya smw hanya semacam loby".

Unknown mengatakan...

Separah itukah kaders HMI saat ini... semoga tidak seperti itu kebenarannya... Salam saya Yusry AK Mehadar. Sekretaris KAHMI Kota Ambo... adik2 LAPMI perfec

qalbi discus mengatakan...

itu adalah realitas.... tidak ada yang bisa disalahkan dan dibenarkan... dikemas dalam bentuk guyonan lucu menarik. untuk mengkritik realitas organisasi di era neolib. dan membuka mata sebagian yang memaknai organisasi sebagai asas nilai.

qalbi discus mengatakan...

itu adalah realitas.... tidak ada yang bisa disalahkan dan dibenarkan... dikemas dalam bentuk guyonan lucu menarik. untuk mengkritik realitas organisasi di era neolib. dan membuka mata sebagian yang memaknai organisasi sebagai asas nilai.

Unknown mengatakan...

Percakapan diatas pembaca sangat menyukainya untuk dijadikan pertimbangan dalam tantangan zaman pada saat ini yang mengingat organisasi HMI Se-Indonesia akan melakukan pesta mahasiswa yakni pesta terbesar di HMI KONGRES Ke- XXIX!!! Jadi harapan komisariat, silahkan berpolitik yang sesuai landasan KONSTITUSI kita, yakni AD dan ART.

Wahjyu Kuncoro mengatakan...

Keren....kritis.....menghibur...

Unknown mengatakan...

Dibaca berkali2 tetep bikin ngakak